Asesmen Tradisional

Posted on

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Peningkatan kualitas sumber daya manusia suatu negara salah satunya ditentukan oleh bagaimana pendidikan di suatu negara dilaksanakan, pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Melalui pendidikan sumber daya manusia suatu negara mempelajari dan menguasai suatu keompetensi, serta mengembangkan pengetahuan untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik.
Untuk dapat meningkatkan penguasaan kompetensi dari peserta didik, pelaksanaan proses pembelajaran haruslah berjalan dengan baik dan efektif. Proses pembelajaran haruslah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami suatu kompetensi, mengetahui sejauh mana ia telah menguasai suatu kompetensi serta mampu menerapkan kompetensi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jika proses pembelajaran berjalan dengan baik, maka hal tersebut akan berimplikasi pada meningkatnya kualitas sumberdaya manusia di suatu Negara.
Untuk dapat mengetahui apakah suatu proses pembelajaran berjalan baik atau tidak, apakah siswa sudah menguasai kompetensi yang dipelajari, maka diperlukan suatu penilaian (asesmen) terhadap proses dan penguasaan kompetensi siswa. Dengan dilaksanakannya asesmen, seorang guru akan mendapat gambaran mengenai tingkat penguasaan kompetensi siswa. Hal tersebut akan dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan untuk langkah selanjutnya. Salah satunya sebagai acuan dalam merancang proses pembelajaran untuk kompetensi berikutnya, asesmen memberikan umpan balik terhadap proses pembelajaran berikutnya.
Salah satu model asesmen yang banyak digunakan dalam proses pendidikan adalah asesmen tradisional. Walaupun model ini sudah mulai digusur oleh authentic asesmen, akan tetapi model ini masih banyak digunakan dalam dunia pendidikan. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik menyusun makalah yang berjudul “Assesment tradisional (penilaian tradisional)”.

1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan ciri-ciri asesmen tradisional ?
2. Bagaimana manfaat dan tujuan asesmen tradisional ?
3. Bagaimana penerapan dan contoh asesmen tradisional ?

1.3. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian dan ciri-ciri asesmen tradisional
2. Menjelaskan manfaat dan tujuan asesmen tradisional
3. Menjelaskan penerapan dan mendiskripsikan contoh asesmen tradisional

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Asesmen Tradisional
Istilah asesmen (assessment) diartikan oleh Stiggins (1994) sebagai penilaian proses, kemajuan dan hasil belajar siswa (outcomes). Sementara itu asesmen diartikan oleh Kumano (2001) sebagai “The process of Collecting data wich shows the development of learning”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakan hal penting yang dinilai dalam asesmen, faktor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.
Wiggins (1984) menyatakan bahwa asesmen merupakan sarana yang secara kronologis membantu guru dalam memonitor siswa. oleh karena itu, maka Popham (1995) menyatakan bahwa asesmen sudah seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal yang terpisahkan. Resnick (1985) manyatakan bahwa pada hahikatnya asesmen menitikberatkan penilaian pada proses belajar siswa. berkaitan dengan hal tersebut, Marzano et al. (1994) menyatakan bahwa dalam mengungkapkan penguasaan konsep siswa, asesmen tidak hanya mengungkap konsep yang telah dicapai, akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dari proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya.
Salah satu bentuk penilaian adalah asesmen tradisional. Menurut Muller (2008), asesmen tradisional adalah penilaian yang mengacu pada ukuran tes pilihan ganda (forced-choice), tes melengkapi (fill-in-the-blanks), tes benar salah (true-false), menjodohkan dan semacamnya. Siswa secara khas memilih suatu jawaban atau mengingat informasi untuk melengkapi penilaian.
Terdapat beberapa ciri-ciri asesmen tradisional diantaranya adalah :
1. Penilaian dilakukan untuk menilai kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang benar.
2. Tes yang diberikan tidak berhubungan dengan realitas kehidupan siswa.
3. Tes terpisah dari pembelajaran yang dilakukan siswa.
4. Dapat diskor dengan reliabilitas tinggi.
5. Hasil tes diberikan dalam bentuk skor.

2.2. Manfaat dan tujuan Asesmen Tradisional
Manfaat Asesmen Tradisional adalah
1. Untuk mengetahui tingkat pencapai kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung.
2. Untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi.
3. Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga dapat dilakukan pengayaan dan remidial.
4. Untuk umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan.
5. Untuk memberikan pilihan alternatif penilaian guru.
6. Untuk memberikan informasi kepada orangtua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.
Tujuan dari AsesmentTradisional diantaranya adalah :
1. Mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar,
2. Memonitor kemajuan siswa,
3. Menentukan jenjang kemampuan siswa,
4. Menentukan efektivitas pembelajaran,
5. Mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran,
6. Mengevaluasi kinerja guru kelas,
7. Mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru

2.3. Penerapan Asesmen Tradisional
2.3.1. Soal Pilihan Ganda
a. Pengertian
Soal bentuk pilihan ganda adalah soal yang jawabannya harus dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Secara umum, setiap soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option). Pilihan jawaban terdiri dari kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Kunci jawaban adalah jawaban yang benar atau jawaban yang paling benar. Pengecoh merupakan jawaban yang tidak benar, namun memungkinkan seseorang untuk terkecoh untuk memilihnya apabila tidak menguasai bahan/materi pelajaran dengan baik.
Keunggulan dari soal pilihan ganda adalah sebagai berikut:
 Mengukur berbagai jenjang kognitif (dari ingatan sampai evaluasi)
 Penskoran mudah, cepat, objektif, dan dapat mencakup ruang lingkup bahan yang luas dalam suatu tes untuk suatu jenjang pendidikan
 Tepat untuk ujian yang pesertanya sangat banyak atau sifatnya massal, sedangkan hasilnya harus segera diumumkan.
Sedangkan kelemahan dari model ini adalah
• Memerlukan waktu yang relative lama untuk menulis soalnya
• Sulit membuat pengecoh yang homogeny dan berfungsi
• Terdapat peluang untuk menebak kunci jawabannya

b. Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun soial pilihan ganda. Hal tersebut mencakup materi, konstruksi dan bahasa dari soal.
Materi:
 Soal harus sesuai dengan indicator. Artinya, soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indicator
 Pilihan jawaban harus homogeny dan logis ditinjau dari segi materi. Artinya semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang terkandung dalam pokok soal, penulisannya harus setara dan semua pilihan jawaban harus berfungsi.
 Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar. Artinya, satu soal hanya memiliki satu kunci jawaban. Jika terdapat beberapa pilihan jawaban yang benar, maka kunci jawabannya adalah pilihan jawaban yang paling benar.

Konstruksi
 Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Artinya kemampuan/materi yang hendak diukur harus jelas, tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh penulis, dan hanya mengandung satu persoalan untuk setiap nomor. Bahasa yang digunakan haruslah komunikatif, sehingga mudah dimengerti oleh siswa. Apabila tanpa melihat pilihan jawaban terlebih dahulu, siswa sudah mengerti apa yang ditanyakan atau dipersoalkan, maka dapat disimpulkan pokok soal tersebut sudah jelas.
 Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya, apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan tersebut dihilangkan saja.
 Pokok soal jangan memberikan petunjuk kearah jawaban yang benar. Pada pokok soal jangan sampai terdapat kata, frase atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk kea rah jawaban yang benar.
 Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negative ganda. Artinya, pada pokok soal sebaiknya tidak terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negative. Penggunaan kata negatif ganda dapat mempersulit siswa dalam memahami maksud soal, oleh karena itu penggunaannya patut dihindari. Namun untuk ketrampilan bahasa, penggunaan kata negative berganda diperbolehkan kalau yang ingin diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri.
 Panjang rumusan pilihan jawaban harus lah relative sama. Hal ini perlu diperhatikan karena ada kecenderungan dari siswa untuk memilih pilihan jawaban yang paling panjang. Seringkali pilihan jawaban yang paling panjang merupakan jawaban yang paling lengkap dan merupakan kunci jawaban dari soal itu.
 Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “semua pilihan jawaban di atas salah” atau “semua pilihan jawaban di atas benar”. Artinya, dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka segi materi pilihan jawaban berkurang satu, karena pernyataan itu hanya merujuk kepada materi dan jawaban sebelumnya
 Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka tersebut, dan pilihan jawaban yang berbentuk waktu harus disusun secara kronologis. Pengurutasn angka disusun dari kecil ke besar atau sebaliknya. Pengurutasn tersebut dimaksudkan untuk mempermudah siswa dalam melihat dan memahami pilihan jawaban.
 Gambar, grafik, table, diagram dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfunsi. Apa saja yang yang menyertai suatu soal yang dipertanyakan harus jelas, terbaca dan dapat dimengerti oleh siswa. Apabila soal itu bisa dijawab tanpa melihat gambar, grafik atau diagram yang disediakan, maka gambar, grafik diagaram amaupun table tersebut tidak berfungsi dengan baik.
 Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak menjawab dengan benar soal sebelumnya tidak akan dapat menjawab dengan benar soal berikutnya.
Bahasa
 Setiap soal harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
 Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan di daerah lain atau secara nasional
 Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata tersebut pada pokok soal.
Berikut ini adalah beberapa contoh soal yang tidak baik beserta perbaikannya:
Berikut ini adalah besaran yang tidak termasuk besaran pokok, kecuali……
a. Massa jenis
b. Kecepatan
c. Kuat arus
d. Kuat medan listrik
e. Gaya
Jika kita lihat dengan baik, soal tersebut menggunakan pernyataan yang bersifat negative ganda, yaitu tidak dan kecuali. Hal ini akan menyebabkan siswa bingung dalam memahami pokok permasalahan yang ditanyakan
Bila suhu pada suatu malam adalah 200C, berapa derajatkah suhu malam itu bila dinyatakan dalam skala Fahrenheit?
a. 770F
b. 450F
c. 650F
d. 680F
e. 380F
Pilihan jawaban pada soal di atas tidak terurut dari besar ke keci atau pun dari kecil ke besar. Hal ini akan menyita lebih banyak waktu bagi siswa untuk memahami dan memilih jawaban yang tepat.

2.3.2. Soal Isian Singkat
Soal isian singkat adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban yang singkat, berupa akata, frase, angka, atau symbol.
Keunggulan dari bentuk soal ini adalah dapat mencakup materi yang luas dan banyak serta dapat diskor dengan mudah, cepat, obyektif, serta mudah dalam menyusunnya. Akan tetapi, model soal ini cenderung hanya mengukur kemampuan mengingat saja. (simple recall).
Ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan dalam menyusun soal isian singkat, diantaranya:
 Soal harus sesuai dengan indicator
 Soal harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, serta kalimat yang singkat dan jelas, sehingga peserta tes dapat memahaminya dengan mudah
 Jawaban yang dituntut dalam soal haruslah singkat dan pasti, yaitu berupa kata, frase, angka, symbol, tempat atau waktu
 Soal tidak merupakan kalimat yang dikutip langsung dari buku
 Soal tidak member petunjuk ke kunci jawaban
 Bagian kalimat yang harus dilengkapi sebaiknya hanya satu bagian dalam rasio butir soal, dan paling banyak dua bagian, supaya tidak membingungkan siswa
Soal model ini terdiri dari dua tipe, yaitu tipe melengkapi dan asosiasi
Berikut ini diberikan beberapa contoh soal isian singkat dalam bentuk melengkapi dan asosiasi:
a. Melengkapi
Hukum yang menyatakan bahwa lintasan dari setiap planet berbentuk elips adalah….
Gaya yang menyebabkan sebuah benda bergerak dalam lintasan melingkar disebut…
b. Asosiasi
Pada titik-titik di sebelah kanan dari setiap besaran, tuliskan satuan dari besaran tersebut!
Besaran Satuan
1. Massa . . .
2. Waktu . . .
3. Kecepatan . . .

2.3.3. Soal Betul-Salah
a. Pengertian
Bentuk soal ini menuntut peserta tes untuk memilih dua kemungkinan jawaban. Bentuk kemungkianan jawaban yang sering digunakan adalah benar-salah atau ya-tidak.
Keunggulan dari soal model ini adalah mampu mengukur berbagai jenjang kemampuan kognitif, dapat mencakup materi yang luas, serta dapat diskor dengan mudah, cepat dan obyektif. Selain keunggulan tersebut, model ini juga memiliki kelemahan, diantaranya:
 Probabilitas untuk menebak dengan benar sangat besar, yaitu 50%. Ini disebabkan karena pilihan jawaban yang tersedia hanya dua
 Bentuk soal ini tidak dapat digunakan untuk mengukur pemahaman siswa secara utuh, karena peserta tes hanya dituntut untuk menjawab benar atau salah
 Apabila jumlah butir soalnya sedikit, indeks daya pembeda butir soal cenderung rendah
 Apabila ragu atau kurang memahami pernyataan soal, peserta tes cenderung untuk memilih pilihan benar
b. Kaidah Penulisan
Penulisan bentuk soal ini perlu memperhatikan beberapa kaidah berikut:
 Hindari penggunaan kata terpenting, selalu, tidak pernah, hanya, sebagian besar, dan kata-kata lain yang sejenis, karena dapat membingungkan peserta tes dalam menjawab. Rumusan butir soal haruslahjelas, dan pasti benar atau pasti salah
 Hindari pernyataan berbentuk kalimat negative
 Hindari penggunaan kata yang dapat menimbulkan penafsiran ganda
 Jumlah rumusan butir soal yang jawabannya benar dan salah hendaknya seimbang
 Panjang rumusan pernyataan butir soal hendaknya relative sama
 Susunan pernyataan benar dan pernyataan salah hendaknya disusun secara random, untuk menghindari peserta tes menjawab dengan mengikuti pola tertentu
 Hindari pengambilan kalimat secara langsung dari buku teks, karena akan membuat siswa untuk cenderung menghafal buku teks, bukan memahaminya

2.3.4. Soal Menjodohkan
a. Pengertian
Soal bentuk menjodohkan terdiri dari dua kelompok pernyataan. Kelompok pertama ditulis pada jalur sebelah kiri, biasanya mengandung pernyataan soal atau pernyataan stimulus. Kelompok kedua ditulis pada lajur sebelah kanan, biasanya merupakan pernyataan jawaban atau respon.
Keunggulan bentuk soal menjodohkan adalah:
 Relative lebih mudah dalam perumusan butir soal, terutama jika dibandingkan denganbentuk soal pilihan ganda
 Ringkas dan ekonomis dilihat dari segi rumusan butir soal dsan dari segi cara memberika jawaban
 Dapat dilakukan penskoran dengan mudah, cepat dan obyektif
Sedangkan kelemahannya adalah:
 Cenderung mengukur kemampuan mengingat, sehingga kurang tepat jika digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif yang lebih tinggi
 Kemungkinan menebak dengan benar relative tinggi, karena jumlah pernyataan soal dengan pernyataan jawaban tidak banyak berbeda
b. Kaidah Penulisan
Ada beberapa kaidah penulisan yang harus diperhatikan dalam menyusun soal bentuk menjodohkan, yaitu:
 Tulis seluruh pernyataan dalam lajur kiri sejenis, dan lajur kanan juga sejenis. Dengan kata lain, pernyataan dalam lajur kiri isinya homogen, demikian juga pernyataan dalam lajur kanan
 Tulislah pernyataan jawaban lebih banyak dari pernyataan soal, sehingga probabilitas untuk menebak jawaban dengan benar menjadi lebih kecil
 Jika jawaban berupa angka, susunlah jawaban dari urutan yang besar ke kecil atau dari kecil ke besar
 Tulislah petunjuk pengerjaan tes yang jelas dan mudah dipahami oleh peserta tes
Berikut ini adalah salah satu contoh soal yang kurang baik:
1. Penemu electron a. m/s
2. Massa electron b. gravitasi
3. Satuan kecepatan c. 9,1 x 10-31 kg
4. Gaya yang menyebabkan apel jatuh ke bumi d. 1,6 x 10 -19C
e. J J Thomson
Soal di atas kurang baik karena, pernyataan di lajur kiri dan kanan tidak homogen, sehingga siswa hanya perlu mencocokkan nama dan satuan yang berkaitan dengan pernyataan

PENUTUP

Kesimpulan
 Asesmen tradisional adalah penilaian yang mengacu pada ukuran tes pilihan ganda (forced-choice), tes melengkapi (fill-in-the-blanks), tes benar salah (true-false), menjodohkan dan semacamnya. Siswa secara khas memilih suatu jawaban atau mengingat informasi untuk melengkapi penilaian.
 Manfaat asesmen tradisional adalah Untuk mengetahui tingkat pencapai kompetensi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung. Tujuannya adalah mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar serta mengevaluasi kinerja guru kelas,
 Mengikuti kaidah yang benar dalam membuat soal berupa pilihan ganda, tes melengkapi, tes benar salah, menjodohkan.

Terima Kasih Sudah berkunjung ke Blog saya. Dan Jangan Lupa Isi Komentar di Bawah ini.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s